™My Generation™
Bukan seorang member?

Jika Anda bukan member dan belum mendaftar, hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk mendaftar! Menjadi member mendapatkan banyak manfaat dan banyak lagi!.


-Mulai topik baru dan membalas pesan kepada orang lain.
-Berlangganan topik dan forum untuk mendapatkan update otomatis.
-Dapatkan profil Anda sendiri dan membuat teman baru.
-Menyesuaikan diri dari pengalaman Anda di sini dan berbagi.
Daftar Sekarang.
By: ™My Generation™ Community Anak Bangsa

™My Generation™

Community Anak Bangsa 2011
 
IndeksPortalCalendarGalleryFAQPencarianPendaftaranLogin
**Welcome To ™My Generation™ Community Anak Bangsa**|||**Bergabunglah Dengan Kami Dan Daftarkan Diri Anda Sekarang**
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Live Streaming
Top posters
Xaverius Fully
 
MG-Aestine Christy
 
laskar751
 
dauskhaan
 
MG_Santi Viper
 
gifan123
 
arvo
 
royvandi
 
MG_Ferdian Xaverius
 
nack-karma
 
widgeo.net
Iklan
December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 Jodoh dari Dapur ke Dangdut

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
MG-Aestine Christy
Moderator
Moderator


MG Community Anak Bangsa
Jumlah posting : 243
Points : 1802
Reputation : 596
Join date : 30.12.10
Age : 26
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Jodoh dari Dapur ke Dangdut   Sun Feb 20, 2011 6:10 pm

Quote :
Tradisi gredoan masyarakat subkultur Using, Banyuwangi, Jawa Timur, dilahirkan sebagai instrumen untuk mempertemukan lelaki dan perempuan sebagai proses menuju perjodohan secara bermartabat. Tradisi itu kini mengalami pergeseran.

Mar’ati (38) masih ingat jelas tatkala diadakan gredoan di kampungnya, Dusun Banyuputih, Desa Macanputih, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi. Sebagai seorang gadis yang sedang mekar berumur 15-17 tahun, ia selalu berada di dapur membantu memasak sambil menanti digredo (tepatnya ditaksir) para pemuda.

Para pemuda mengintip dirinya lebih dulu dari celah dinding gedek (anyaman bambu). Kemudian, para pemuda secara bergantian masuk melalui dapur dan berkenalan. Kalau salah seorang pemuda merasa cocok dengan dirinya, esok harinya pemuda itu datang ke rumahnya. ”Dulu, ya, banyak yang naksir saya, tetapi akhirnya saya menikah tidak dari gredoan,” kata Mar’ati. Dia menikah dengan Nurudin, teman sekantornya, tahun 1991.

Peristiwa itu terjadi tahun 1988 sampai 1990. Fenomena gredoan—seorang pemuda bertemu dengan gadis atau janda di dapur, bersalaman, dan ngobrol—berbeda dengan fenomena tahun 1960-an.

KH Nur Muttohir (77), tokoh masyarakat Desa Macanputih, masih ingat gredoan itu dilakukan dengan pihak lelaki mengintip melalui celah dinding gedek kemudian memasukkan lidi. Si wanita memotong ujung lidi pertanda setuju digredo. Lantas, terjadi percakapan yang dibatasi dinding dengan cara basanan atau berpantun. Jika setuju, esoknya si lelaki datang melanjutkan hubungan. ”Kalau kedua pihak setuju, tak perlu lama lagi mereka menikah,” katanya.

”Acara gredoan memang setiap tahun diadakan. Tetapi, model seperti zaman saya muda sudah tidak ada lagi. Kan sekarang sudah hampir tidak ada rumah berdinding gedek. Sekarang sudah banyak media untuk cewek dan cowok berkenalan,” ujar Mar’ati.

Format gredoan pada awal abad ke-21 ini memang berubah, seperti yang terjadi Senin (14/2/2011) malam. Seorang lelaki menggredo perempuan di sekitar panggung musik dangdut. Tidak ada bedanya dengan gaya gaul anak-anak muda pada umumnya di tempat lain. ”Sekarang, kalau ceweknya mau, ya, tukar-tukaran nomor handphone,” ujar Ny Sumarni, istri Kepala Desa Macanputih Muhammad Farid.

Gredoan berasal dari bahasa Using, ”gredu”, atau bahasa Jawa kuno, ”gridu”, yang berarti menggoda. Merupakan tradisi masyarakat Using, suatu subkultur di Jawa Timur di samping subkultur Arek, Mataraman, Madura, Pendalungan, dan Tengger. Masyarakat subkultur Using merupakan mayoritas penduduk Banyuwangi. Secara fisik tidak ada bedanya antara masyarakat Using dan Jawa. Ciri utamanya adalah dialeknya.

Adapun gredoan hanya ada di empat desa, yaitu Cangkring, Kecamatan Rogojampi, dan tiga desa di Kecamatan Kabat, yaitu Desa Gombolirang, Macanputih, dan Tambong. Namun, di Cangkring beberapa tahun ini tidak diadakan gredoan. Tahun ini Gombolirang dan Tambong juga absen karena gagal panen padi akibat diserang wereng coklat.

Praktis, tinggal Desa Macanputih yang tahun ini mengadakan gredoan, yaitu Dusun Banyuputih dan Dusun Macanputih Krajan, yang akan digelar 5 Maret mendatang. ”Kalau Macanputih tidak pernah absen. Waktunya pun tetap. Malam 12 Maulud untuk Banyuputih dan akhir Maulud untuk Macanputih Krajan,” ujar Muhammad Farid.

Koreksi pranata sosial

Tidak ada satu orang pun yang dapat memastikan kapan tradisi gredoan mulai digelar. Budayawan Using, Hasnan Singodimayan, mengatakan, tradisi itu sudah tua. Pada awal tahun 1960-an dia sudah ikut gredoan.

Di desa-desa itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau muludan yang dipelihara masyarakat Banyuwangi sampai sekarang dijadikan sarana untuk silaturahim. Di samping memberikan nasi dan penganan kepada saudara yang tinggal di luar desa, juga dipakai sebagai momentum mengumpulkan sanak famili atau reuni. Karena memasak untuk pesta muludan butuh tenaga banyak, didatangkan sanak kerabat untuk rewang (membantu).

Acara reuni ini lantas dijadikan momentum untuk menjodohkan anak-anak mereka. Para tetua memfasilitasi agar mereka saling kenal, tetapi tak melanggar norma agama. Karena itu, perkenalan di antara mereka pun dibatasi dinding.

Gredoan ini sekaligus mencegah orangtua memaksakan jodoh anak gadisnya karena pemaksaan sering berlanjut dengan munculnya colongan atau playoaken, yaitu lelaki melarikan gadis sampai akhirnya orangtua gadis mau menikahkan.

Gredoan juga sebagai koreksi atas pranata sosial tradisional lain, yaitu bathokan. Bathokan adalah ketika seorang gadis membuka warung agar dapat kenal dengan pria. ”Kalau di bathokan itu minimal bisa pegang tangan,” kata Hasnan yang semasa mudanya juga suka bathokan.

Dengan demikian, gredoan dianggap sebagai media perjodohan paling baik dan bermartabat. ”Diyakini pula jodoh yang didapat dari gredoan akan mendapat berkah karena diselenggarakan di bulan kelahiran Nabi,” kata Yudi, tokoh pemuda Desa Tambong.

”Saya yakin mendapat jodoh dari gredoan itu berkah, lebih awet. Saya sendiri juga memperoleh istri di gredoan,” kata Kepala Desa Tambong Zakaria.

Berbalik

Dalam perkembangan mutakhir, gredoan bergerak berbalik arah. Kini menjadi media atau fasilitas bertautnya lelaki-perempuan secara lebih bebas sehingga banyak warga Banyuputih yang mulai gerah. ”Saya tidak ikut gredoan. Cowok-cowok suka kasar. Minta kenalan, tetapi kalau ditolak marah,” kata Ida.

”Keluarga saya tidak suka gredoan. Waktu gadis saya juga tidak pernah ikut. Rasanya risi. Saya menikah dengan pacar saya saat sama-sama di SMP,” ujar Ny Hartatik yang menikah tahun 1997.

Sosiolog Universitas Airlangga, Surabaya, Hotman M Siahaan, melihat perubahan gredoan dari ranah privat ke ranah publik akibat penetrasi komersialisasi bisnis. Terlihat di gredoan ada perusahaan yang menjadi sponsor, melibatkan media massa untuk tayang jualnya.

”Yang demikian ini fenomena umum di mana komersialisme mencari celah apa saja. Pranata tradisional dibingkai dalam komersialisasinya seperti dicari uniknya,” katanya.

Akhirnya, lanjut Hotman, yang terancam adalah kearifan lokal yang menjiwai pranata sosial tradisional itu. Sulit terjadi proses ”glokalisasi”, yaitu menguatnya pengaruh kearifan lokal menghadapi globalisasi karena dinding ”glokalisasi” tidak cukup kuat.

Untuk diikhlaskan mati seperti tradisi bathokan karena hanya memperburuk citra masyarakat Using, tampaknya tidak mudah karena gredoan modern mendapat penyangga baru, yaitu kekuatan modal dan komersial. Juga pemerintah setempat yang menjadikannya sebagai proyek pariwisata.

Semua terpulang kepada masyarakat Using sendiri.
Kembali Ke Atas Go down
http://afterlifehacking.blogspot.com/
 
Jodoh dari Dapur ke Dangdut
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» [share] Caraku terhindar 100% dari Virus PC & Notebook ( No Deep Freeze )
» Ramalan Dunia Dari Tahun 2010 Sampai 5079
» Tanya Soal kirim motor dari amrik ke indo
» Salam kenal dari Peking Ujung Aspal Pondok Gede Mohon ijin bergabung
» Tangki dari fiber

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
™My Generation™ :: Lifestyle :: Relationship-
Navigasi: