™My Generation™
Bukan seorang member?

Jika Anda bukan member dan belum mendaftar, hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk mendaftar! Menjadi member mendapatkan banyak manfaat dan banyak lagi!.


-Mulai topik baru dan membalas pesan kepada orang lain.
-Berlangganan topik dan forum untuk mendapatkan update otomatis.
-Dapatkan profil Anda sendiri dan membuat teman baru.
-Menyesuaikan diri dari pengalaman Anda di sini dan berbagi.
Daftar Sekarang.
By: ™My Generation™ Community Anak Bangsa

™My Generation™

Community Anak Bangsa 2011
 
IndeksPortalCalendarGalleryFAQPencarianPendaftaranLogin
**Welcome To ™My Generation™ Community Anak Bangsa**|||**Bergabunglah Dengan Kami Dan Daftarkan Diri Anda Sekarang**
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Live Streaming
Top posters
Xaverius Fully
 
MG-Aestine Christy
 
laskar751
 
dauskhaan
 
MG_Santi Viper
 
gifan123
 
arvo
 
royvandi
 
MG_Ferdian Xaverius
 
nack-karma
 
widgeo.net
Iklan
December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar

Share | 
 

 Analisis & Prediksi Grup A Piala Dunia 2014

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Xaverius Fully
Admin
Admin


MG Community Anak Bangsa
Jumlah posting : 245
Points : 3220
Reputation : 527
Join date : 30.12.10
Age : 28
Lokasi : Dunia Maya

PostSubyek: Analisis & Prediksi Grup A Piala Dunia 2014   Thu Jun 12, 2014 1:10 pm


Inilah bingkai persaingan yang akan terjadi di Grup A
selama perhelatan Piala Dunia 2014.


BRAZIL

Ikhtisar: Brasil tak perlu berkeringat untuk mendapatkan
kursi di Piala Dunia 2014. Sejak ditetapkan jadi tuan rumah,
Selecao sudah lolos secara otomatis ke putaran final
turnamen ini. ‘Waktu luang’ yang seharusnya mereka pakai
untuk berebut kursi pun mereka isi dengan uji coba
persahabatan.
Satu hal yang perlu disorot dalam perjalanan ke Piala Dunia
2014 ialah pergantian dinasti di penghujung 2012. Pelatih
Brasil saat itu, Mano Menezes, dinilai kurang memuaskan
menyusul tersingkirnya Brasil di Piala Amerika dan rentetan
masalah lain. Federasi sepakbola Brasil pun menurunkan
Menezes dari jabatannya dan memanggil kembali Luiz Felipe
Scolari.
Pilihan Brasil dalam penunjukkan ini kiranya tepat. Sejak
mengembalikan Scolari ke kursi kepelatihan – ia sempata
membawa Brasil juara dunia pada 2002 – Brasil hanya kalah
dua kali, yakni saat melawan Inggris dan Swiss. Performa
Selecao pun luar biasa, mereka meraih 15 kemenangan dalam
16 laga terakhir sembari menjadi juara Piala Konfederasi 2013
(mengalahkan Spanyl 3-0 di final). Pantas kalau jelang Piala
Dunia, mereka kembali jadi unggulan.

Pemain Andalan Neymar

Musim ini bukanlah musim yang mengesankan bagi Neymar di
Barcelona. Datang dari Santos dengan banderol mahal -
bahkan transfernya bermasalah- ia tidak mampu menjawab
tuntutan Camp Nou. Namun kisah Neymar di Brasil sungguh
berbeda. Mengenakan seragam No. 10, ia selalu jadi
inspirasi Selecao saat buntu dan kemampuan individualnya
mampu menghasilkan perubahan dalam laga.
Taktik: Di atas kertas, Brasil menerapkan formasi
4-2-3-1, tapi yang menarik dari sini ialah gegenpressen
(gaya main Borussia Dortmund asuhan Jurgen Klopp) versi
Scolari. Selecao menunjukkan intensitas dan komitmen tinggi
saat mereka tidak sedang memegang bola. Pressing tinggi
mereka pun jadi salah satu andalan, bahkan saat menekuk
Spanyol tiga gol tanpa balas.
Brasil memang hanya menempatkan dua bek tengah, yakni
Thiago Silva dan David Luiz, tapi mereka punya Luiz Gustavo
yang sering berperan sebagai sweeper – pergerakan
dinamisnya sekaligus mampu menutup celah di lini tengah.
Pertahanan mereka kokoh dan untuk lini depan, tak perlu
diragukan lagi. Mereka punya Oscar dan Neymar sebagai
sumber kreativitas. Eksplosivitas Hulk akan memperkaya
penyerangan Brasil, dilengkapi dengan transisi sempurnanya
dengan Dani Alves saat sang bek meninggalkan posisinya.
Fred turut meramaikan skuat Brasil dengan peran No.9 yang
diberikan Scolari. Penyerang Fluminense ini menjawab
kepercayaan sang pelatih dengan lima gol saat Piala
Konfederasi. Sayang, rentetan cedera membuat performanya
di PD dipertanyakan. Di saat terdesak, Scolari kemungkinan
menjadikan Neymar sebagai inti permainan di belakang striker
– walau pergerakannya di sana terlalu rawan dan mudah
diprediksi.
Brasil telah mencetak 59 gol sejak Scolari kembali, rata-rata
2,7 gol per laga sementara hanya kebobolan 15 kali (0,75)
per laga. Mereka mampu mencatatkan 10 clean sheet
termasuk saat melawan tim sekelas Prancis dan Spanyol.

Pelatih Luiz Felipe Scolari

Scolari mewarisi skuat 'bermasalah' dari Mano Menezes. Saat
pertama kali menerima tongkat estafet, Brasil dipenuhi
pemain nir pengalaman dan tertekan oleh ekspektasi publik.
Tapi ia mampu menyulap skuat meragukan itu menjadi salah
satu kandidat juara di Brasil 2014. Tak heran kalau ia mampu
mengulangi sukses di PD 2002: membawa Brasil juara dunia.

KAMERUN


Ikhtisar: Di babak kedua kualifikasi, Kamerun berada satu
grup dengan Lbya, Kongo, dan Togo. Perjalanan mereka di sini
terbilang lancar, mampu mengantongi 13 poin dari total 6 laga
(termasuk bonus kemenangan 3-0 atas Togo karena Togo
melanggar aturan FIFA). Kamerun keluar sebagai juara grup dan
melaju ke babak kualifikasi selanjutnya, di mana mereka
bertemu dengan Tunisia.
Dalam pertandingan dua leg ini, Kamerun juga tidak banyak
mendapat kesulitan walau sempat ada konflik internal di
dalamnya. Leg pertama berakhir imbang tanpa gol dan Samuel
Eto’o mengeluh dalam laga ini. Ia merasa diasingkan dalam
timnya dan menyebut ada ‘konspirasi untuk tidak mengoper
bola padanya’ namun tidak ada bukti.
Beruntung, di tengah konflik, Kamerun mampu
mengesampingkan segala hal-hal emosional saat leg kedua.
Mereka menang 4-1 atas Tunisia dan akhirnya mendapat
tiket ke Brasil.
Dalam dua laga pemanasan terakhir, mereka mampu menahan
imbang Jerman 2-2 dan menang 1-0 atas Moldova.

Pemain Andalan Samuel Eto'o

Penyerang veteran Kamerun ini tidak hanya mengundang
perhatian di lapangan, melainkan juga di luar lapangan. Ia
sempat berkonflik dengan pelatih Volker Vinke - bahkan
sempat pensiun pada September tahun lalu - namun Eto'o
kembali ke skuat Kamerun dan jadi andalan negara Afrika
tersebut. Tak heran, sebab Eto'o adalah topskor sepanjang
masa Kamerun, sekaligus kapten.
Taktik: Sejak jadi pelatih pada Mei 2013, Finke sering
menerapkan 4-3-3 klasik, hanya beberapa kali
bereksperimen dengan 4-4-2 atau 4-1-3-2. Ia pastinya
akan memainkan Charles Itandje sebagai kiper utama di Brasil
karena ia tampil gemilang di level klub –bersama Konyaspor-
maupun level internasional.
Nicolasi N’Koulou dan Aurelien Chedjou juga telah mematenkan
tempat mereka di jantung pertahanan selama beberapa bulan
terakhir walau tampil buruk di level klub. Di sektor kiri, Henri
Bedimo sepertinya berpotensi mengegser Benoit Assou-
Ekkoto karena tampil gemilang bersama Lyon. Bedimo mampu
tampil tangguh saat bertahan dan memberikan ancaman saat
menyerang. Di sektor kanan, ada Allan Nyom yang dinilai lebih
unggul dari Gaetan Bong dan Dany Nounkeu.
Lini tengah sudah cukup mapan. Stephane Mbia akan
dipercaya untuk menjadi gelandang ball-winning setelah
tampil ciamik bersama Sevilla. Finke juga menempatkan pemain
yang dinamis untuk menemaninya, seperti Enoh Eyong, atau
Jean Il Makoun, atau Alex Song.
Kendati begitu, aset paling berharga Kamerun ada di lini depan.
Samuel Eto’o yang jadi kapten akan memimpin ujung tombak.
Vincent Aboubakar akan bermain di sektor kanan dan Eric-
Maxim Choupo-Moting sepertinya akan mengisi lini kiri.

Pelatih Volker Finke

Finke adalah salah satu tokoh revolusi sepakbola Jerman pada era 1990an bersama Freiburg dengan gaya sepakbola yang tak biasa. Ia ditunjuk jadi pelatih Kamerun di tengah-tengah
masa kualifikasi dan akhirnya sukses membawa Kamerun ke Piala Dunia. Ketegasannya sempat memicu konflik dengan Eto'o, tapi ia tetap dipercaya memimpin Kamerun di Brasil.

KROASIA


Ikhtisar: Perjalanan Kroasia ke Piala Dunia 2014 melewati
jatuh-bangun yang membanggakan. Berada satu grup dengan
Belgia, Wales, Skotlandia, Serbia, dan Makedonia, mereka
tampil mengesankan di babak kualifikasi. Di enam laga awal
saja, mereka mampu mengantongi 16 poin. Sial bagi Luka
Modric dkk, mereka menelan kekalahan tiga kali beruntun
setalahnya. Harapan untuk lolos ke Piala Dunia pun hampir saja
pupus, tapi mereka diberi kesempatan kedua, yakni babak
play-off melawan Islandia.
Vatreni tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Melawan
tim kejutan di babak kualifikasi, Islandia, mereka tampil dengan
amunisi andalan. Kejutan memang sempat terjadi di leg
pertama karena Modric yang diunggulkan tak mampu meraih
poin penuh. Laga tanpa gol pun menjadi konklusi di leg
pertama. Beruntung, mereka tampil impresif di leg penentu.
Kroasia memastikan diri berangkat ke Brasil setelah menang
2-0 di leg kedua.
Melalui proses jatuh bangun itu, Kroasia siap membangun
performa ciamik di Brasil dan tentunya berharap bisa lolos
dari Grup A. Setidaknya di belakang Brasil yang jadi unggulan.

Pemain Andalan Luka Modric

Musim ini adalah musim yang indah bagi Modric. Tampil
gemilang di posisi gelandang deep-lying bersama Real Madrid
musim ini, ia mampu membawa pulang gelar Copa del Rey dan
Liga Champions. Kemampuan mendikte tempo permainannya
pun semakin matang dan ia akan jadi sosok penting di lini
tengah Kroasia nanti.
Taktik: Berakhir sudah era eksperimen Igor Stimac yang
membuat dirinya dipecat. Kini, Niko Kovac masuk sebagai
manajer Kroasia - sejak play-off kontra Islandia - dan ia
bersikeras menerapkan formasi 4-2-3-1 ke 4-1-4-1 sejak
awal tiraninya. Formasi ini adalah formasi yang memaksimalkan
peran Luka Modric serta Ivan Rakitic, duet playmaker andalan
Kroasia. Kendati begitu, masalahnya hanya satu: tidak ada
gelandang dengan kekuatan fisik berlebih untuk menjaga
keseimbangan lini tengah.
Kiper 35 tahun, Stipe Pletikosa, sepertinya masih jadi
andalan Kovac. Memang tak ada yang mengalahkan
ketangguhannya menjaga mistar Kroasia selama 15 tahun.
Menemani Pletikosa, kapten Darijo Srna akan menjaga sektor
kanan sementara duet Vedran Corluka dan Dejan Lovren ada
di tengah. Lini kiri Kroasia jadi salah satu sisi yang perlu
diperhatikan karena Ivan Strinic cedera dan Danijel Pranjic
kembali dipanggil.
Modric dan Rakitic dipercaya untuk mengokupasi lini tengah,
sementara belum ditemukan tempat paten untuk Mate
Kovacic. Ketiga gelandang ini memang cerdas secara taktik,
tapi mereka tidak dikaruniai fisik tangguh untuk merebut bola.
Kalau mereka terlalu dibebani dengan tanggung jawab
bertahan, kreativitas mereka bisa terkekang. Penempatan
gelandang veteran seperti Ognjen Vukojevic mungkin jadi opsi
teraman Kovac untuk mengamankan lini tengah sementara
Kovacic ditempatkan di salah satu sayap.
Di depan, ada Mario Mandzukic yang tampil tajam bersama
Bayern Munich beberapa musim terakhir. Namun, ia dipastikan
absen di laga pembuka Grup A melawan Brasil karena
mendapat kartu merah dalam laga kontra Islandia. Ivica Olic
dan Eduardo pun jadi pilihan Kovac.
Satu hal yang patut disimak, semua pemain Kroasia tampil
gemilang bersama klubnya masing-masing. Tentu Piala Dunia
akan jadi ajang menarik bagi mereka kalau kegemilangan itu
mampu mereka terapkan bersama timnas mereka.

Pelatih Niko Kovac

Tak seperti pendahulunya, Niko Kovac justru mendapat
banyak dukungan sejak menjabat sebagai pelatih. Eks kapten
Kroasia ini ditunjuk jadi pelatih Oktober lalu dan meloloskan
Kroasia dengan kemenangan atas Islandia (agregat 2-0).
Skema 4-2-3-1 ke 4-4-1-1 yang ia terapkan pun bertolak
belakang dengan besutan Stimac, sarat akan kedisiplinan dan
kesan ngotot.

MEKSIKO


Ikhtisar: Perjalanaan Meksiko di zona CONCACAF jauh dari
kata lancar. El Tricolor kesulitan bersaing dengan negara-
negara seperti Amerika Serikat, Honduras, dan Kosta Rika.
Performa Javier Hernandez dkk pun terbilang di bawah rata-
rata saat mereka melakoni kualifikasi.
Meksiko hanya mampu mengantongi 11 poin dari 10
pertandingan. Mereka pun terdampar di peringkat keempat, di
bawah AS, Honduras, dan Kosta Rika, dan gagal
mengamankan tiket otomatis ke Piala Dunia.
Beruntung, ada kesempatan kedua bagi mereka. Pasukan Miguel
Herrera mendapat jatah untuk melakoni laga play-off
melawan pemenang dari zona OFC, yakni Selandia Baru.
Hasilnya bisa ditebak karena perbedaan kualitas tim terlampau
jauh. Meksiko keluar sebagai pemenang setelah mengamankan
agregat 9-3 dan berangkat ke Piala Dunia 2014 sebagai wakil
keempat zona CONCACAF.

Pemain Andalan Javier Hernandez


Chicharito memang tak mendapat banyak kesempatan
bermain di Manchester United, khususnya saat David Moyes
menjabat. Sebagai dampaknya, ia tampil kurang maksimal di uji
coba terakhir. Namun, Miguel Herrera sepertinya masih belum
menemukan ujung tombak yang lebih tajam dari Si Kacang
Polong ini. Chicharito tetap jadi tumpuan di lini depan.
Taktik: Terpengaruh oleh pelatih Argentina Ricardo La
Volpe, Miguel Herrera menerapkan formasi 5-3-2 di tubuh
Meksiko, di mana peran gelandang serang dan bek sayap
menjadi sangat penting. Ia tidak banyak melakukan perubahan.
Kalaupun ada, ia seringkali mengubah ke formasi 4-4-2 atau
mengubah lini tengah saja.
Peran Rafael Marquez sangat krusial di sini. Ia akan jadi pusat
jantung pertahanan Meksiko sementara Hector Moreno dan
Diego Reyes akan bertugas mengawal area depan Marquez
dengan menjaga penyerang lawan. Paul Aguilar akan mengisi
sektor kanan dan bek veteran Carlos Salcido ada di sisi
sebaliknya. Di belakang Rafa, ada Guillermo Ochoa yang
berpotensi menggeser peran kiper veteran José de Jesús
Corona.
Hector Herrera - yang jadi pemain langganan Porto musim lalu
- akan mengisi peran sentral di lapangan tengah. Sementara
di lini depan, ada Oribe Peralta yang sudah memastikan diri
ada di starting XI. Javier Hernandez dan Giovani dos Santos
masih harus berebut tempat utama karena performa yang
kurang meyakinkan musim lalu.
Di era ini, memang hanya sedikit tim yang bermain dengan lima
bek, tapi Herrera tak ingin mengubah skema itu. Kalau ia
sampai memainkan empat bek, itu berarti ia sangat
membutuhkan gol di satu titik.

Pelatih Miguel Herrera


Di Piala Dunia 1994, ia masih menjadi pemain Meksiko dan kini
ia kembali sebagai pelatih Meksiko. Herrera ditunjuk jadi pelatih
enam pekan sebelum laga play-off melawan Selandia Baru.
Tak heran kalau Meksiko menunjuknya sebagai pelatih sebab
sosok berkharisma ini baru saja memenangkan Liga Meksiko
bersama dengan America di musim 2012/13.

Prediksi

Pos Klasemen Akhir Poin Brasil Sempurna, Kroasia Menyusul

Brasil 2-1 Kroasia. Meksiko 0-1 Kamerun
Brasil 3-0 Meksiko. Kamerun 0-2 Kroasia
Kamerun 1-2 Brasil. Kroasia 2-0 Meksiko

1. Brasil 9
2. Kroasia 6
3. Kamerun 3
4. Meksiko 0

Brasil akan dominan dalam grup ini. Rekor kemenangan
sempurna akan diraih oleh Selecao. Walau mendapat
perlawanan sengit dari Kroasia, mereka tetap meraih angka
sempurna. Sementara itu, Kroasia diprediksi hanya kalah
sekali dari Brasil dan mampu mengamankan poin penuh saat
melawan Kamerun dan Meksiko. Meksiko akan berada di dasar
klasemen saat babak grup usai, sementara Kamerun mampu
mengantongi satu kemenangan atas El Tricolor.
Kembali Ke Atas Go down
http://ferdiankeijikenichiunderground.blogspot.com/
 
Analisis & Prediksi Grup A Piala Dunia 2014
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» 10 Grup Lawak Paling Berpengaruh di Indonesia
» Ramalan Dunia Dari Tahun 2010 Sampai 5079
» 10 Mafia Terkejam di Dunia
» MOGE SKUTIK YAMAHA TMAX 2014 FP PLAT B
» WTS : YAMAHA R6 RACE BLUE 2014 ATPM KM HANYA 46

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
™My Generation™ :: Sport :: Sepak Bola-
Navigasi: